Usai balap di MotoGP Mandalika, Marc Marquez mengeluh bukan lantaran finish ke-6. Tapi gegara banyaknya kegiatan promosi di luar balap. Ada upacara penyambutan, meet and greet di Jakarta dan Lombok, games dan lain-lain yang mulainya sejak hari Rabu. Atau sejak kedatangannya ke Indonesia. Bahkan ketika balap di Motegi, Jepang seri sebelumnya, Marc ditegur penyelenggara MotoGP terkait mengirimkan ‘pemeran pengganti’ demi menghindari balapan gokart antar-pembalap MotoGP pada akhir pekan lalu.
Baca juga : Marc Marquez Patahkan Kutukan
”Kami mengalami tekanan besar dan perlu konsentrasi tinggi menghadapi balap pada weekend,” ujarnya. Komentar ini sebenarnya rentetan dari rencana perubahan regulasi MotoGP untuk musim kompetisi 2027, yang menimbulkan kontroversi di kalangan pembalap MotoGP. Yakni, akan ada 2 kali Sesi Kualifikasi terpisah untuk membedakan posisi start Sprint Race dan Balap Utama. Yang pada tahun 2026 dan sebelumnya, penentuan posisi start hanya dilakukan sekali.
Respon pembalap MotoGP pun terpecah. Pedro Acosta yang tahun depan bakal di tim Ducati Lenovo, kurang sepakat dengan rencana regulasi itu. Menurutnya, dua kali Qualifying adalah melelahkan dan tidak perlu.
Acosta tidak yakin apakah ide mengadakan kualifikasi Sprint pada hari Jumat dengan 22 pembalap di lintasan, dilanjutkan dengan Q1 yang juga melibatkan 22 pembalap, Q2, balapan Sprint, dan balapan utama—adalah langkah terbaik. Dia bilang, akan ada begitu banyak momen kami berada dalam tingkat tekanan yang sangat tinggi.

Baca juga : Pertamina Enduro
Jorge Martin bilang kegiatan promosi yang sangat banyak memang meningkatkan kuantitas hiburan. Namun perlu diperhitungkan urgensinya dan perlu menyikapinya dari sisi pembalap yang telah memiliki jadwal padat menyambut balap.
Beda lagi pendapat debutan baru Toprak Razgatlioglu and Diogo Moreira. Dua kali babak kualifikasi justru menguntungkan lantaran mereka memeproleh kesempatan lebih banyak untuk menambah jam terbang membesut motor. Begitu pula bagi Marco Bezzecchi yang juara GP Mandalika kemarin. Dua kali melakukan kualifikasi bisa dipakai untuk memperbaiki posisi jika kualifikasi pertama gagal karena hal sepele. Menurutnya, ada kalanya nasib kuarang baik di kualifikasi pertama dan bisa diperbaiki di kualifikasi kedua.
Dalam perpecahan pendapat mengenai rencana 2027 itu, sepertinya pembalap hanya bisa pasrah. Tak ada kekuatan suara untuk menolak regulasi yang dianggap memberatkan.
Teks: Yoni Sutoyo
Foto: pertaminaenduro/ aprilia